Make a blog

beritabgr1

1 year ago

Presiden Soekarno Ingin Dikuburkan di Kebun Raya Bogor

Presiden Republik Indonesia yang pertama Soekarno wafat pada hari minggu 21 Juni 1970 pada usianya yang ke 69. Akhir dari perjalanan hidup orang yang teramat kita cintai itu memang teramat memilukan. Berada dalam tahanan rumah, dikucilkan dari rakyatnya oleh pemerintahan Orde Baru dibawah rezim Soeharto.

Bogor berada dalam bingkai-bingkai sejarah perjalanan hidup sang proklamator. Sama halnya dengan Sir Stamford Raffles Gubernur Jenderal Inggris yang meneteskan air mata saat harus meninggalkan Bogor yang teramat ia cintai, Soekarno juga memiliki kecintaan yang mendalam pada Kota Hujan. Bogor memang kota yang mencuri hati para pemimpin.

Di masa-masa terakhir hidupnya, Bung Karno sempat diasingkan di Istana Bogor sebelum dipindahkan ke Wisma Yaso di Jakarta (Museum Satria Mandala sekarang). Ia menjadi tahanan rumah karena dugaan keterkaitannya dengan PKI yang sampai saat ini tidak pernah terbukti.

Sedemikian gencarnya intelijen Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) ingin membuktikan keterlibatan Bung Karno dengan PKI, namun semua sia-sia. Tidak mungkin orang yang telah memberikan segalanya bagi negara dan bangsanya menjerumuskan negeri ini pada sebuah makar dan kekacauan yang besar.

Sejak dipindahkan ke Wisma Yaso pada Desember 1967 lah, kesehatan sang proklamator menurun drastis. Dari seorang yang selalu bersemangat dan enerjik menjadi lemah dan lunglai. Dari kesejukan Istana Bogor ke sebuah wisma yang kotor dan berdebu. Bahkan keluarganya sendiri sulit untuk menemuinya karena penjagaan yang ketat.

Saat itu betapa Bung Karno merindukan Bogor, dan bisa jadi ia merasa bahwa ajalnya sudah semakin dekat. Bung Karno pun mengeluarkan wasiat agar ia dikuburkan di tanah Padjadjaran

Dalam autobiografi “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams, Bung Karno berwasiat agar dimakamkan;

“Di bawah pohon yang rindang, dikelilingi oleh alam yang indah, di samping sebuah sungai dengan udara segar dan pemandangan bagus. Aku ingin beristirahat di antara bukit yang berombak-ombak dan di tengah ketenangan. Benar-benar keindahan dari tanah airku yang tercinta dan kesederhanaan darimana aku berasal. Dan aku ingin rumahku yang terakhir ini terletak di daerah Priangan yang sejuk, bergunung-gunung dan subur, di mana aku pertama kali bertemu dengan petani Marhaen...”

Dengan penanganan medis yang minim, putra sang Fajar akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir pada pukul tujuh pagi, 21 Juni 1970.

Menurut sejarawan Asvi Warman Adam, sahabat Soekarno, Masagung dalam buku Wasiat Bung Karno, mengungkapkan bahwa Sukarno telah menulis semacam wasiat, masing-masing dua kali, kepada istrinya Hartini (16 September 1964 dan 24 Mei 1965) dan Ratna Sari Dewi (20 Maret 1961 dan 6 Juni 1962).

“Di dalam salah satu wasiat itu dicantumkan tempat makam Bung Karno, yakni di bawah kebun nan rindang di Kebun Raya Bogor,” tulis Asvi dalam Bung Karno Dibunuh Tiga Kali.

Tapi memang sedemikian hebatnya Soeharto dengan naluri politiknya yang kuat demi mempertahankan kekuasaanya, ia menilai bahwa dengan dikuburkannya Bung Karno di Bogor yang terlalu dekat dengan Jakarta, maka kedekatan itu dapat dipolitisasi oleh para pendukungnya. Soeharto pun memutuskan untuk memilih tempat kelahiran Bung Karno di Blitar sebagai tempat peristirahatan sang proklamator yang terakhir, jauh dari ibu kota, dan jauh dari Kota Bogor yang teramat ia cintai...

kebun raya bogor